3.3.A.6 Refleksi Terbimbing-Program Pengelolaan
Yang Berdampak Pada Murid
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ekosistem adalah keadaan khusus tempat komunitas suatu organisme hidup dan komponen organisme tidak hidup dari suatu lingkungan yang saling berinteraksi. Konsep ini sejatinya berakar dari biologi, di mana jenis-jenis ekosistem di antaranya adalah; laut, pantai, hutan, kolam, dan padang rumput. Benang merah dari kata ekosistem adalah saling berinteraksi dan keterkaitan. Masing-masing komponen dalam suatu ekosistem berkontribusi dalam interaksi yang erat untuk menyediakan bahan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Cahaya matahari, air, dan sumber energi lainnya semuanya memberikan kontribusi terhadap ekosistem. Konsep ekosistem baru-baru ini diperluas ke makna yang lebih umum, terutama struktur sosial.Untuk itu, organisasi/institusi dan sekolah juga dapat dijelaskan sebagai ekosistem. Dalam Collins English Dictionary, ekosistem bisa juga diartikan sebagai interaksi dan keberkaitan antar seluruh komponen sistem yang berada pada suatu area tertentu.
Sekolah sebagai suatu ekosistem
pendidikan yang didalamnya terdapat komponen hidup (biotik) dan tak hidup
(abiotik) satu sama lain saling berkontribusi, berkaitan dan saling
berinteraksi dalam konteks kelangsungan penyelenggaraan dan pelayanan
pendidikan di level mikro.
Faktor-faktor biotik yang ada dalam
ekosistem sekolah di antaranya adalah :
(1)
peserta didik ; (2) kepala sekolah; (3) guru; (4)
staf/tenaga kependidikan; (5) pengawas sekolah; (6) orang tua peserta didik;
dan (7) masyarakat sekitar sekolah.
Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan,
faktor-faktor abiotik juga memiliki kontribusi untuk kelangsungan proses
pendidikan di sekolah, di antaranya adalah : (1) keuangan; (2) sarana dan
prasarana sekolah.
Untuk menggerakkan seluruh komponen
biotik dan abiotik dalam komunitas sekolah dibutuhkan keunggulan dalam
pengelolaan sumber daya. Dalam konteks ini, peranan pemimpin sangat
esensial dalam melihat potensi dan menggerakkan sumber daya yang dimiliki.
Substansi kepemimpinan adalah pengaruh, orang yang piawai memengaruhi orang
lain atau komunitas sekolah, sejatinya adalah pemimpin di komunitas tersebut.
Seorang guru adalah pemimpin dihadapan
peserta didiknya karena ia adalah sosok yang berpengaruh dihadapan
peserta didiknya. Seorang guru penggerak setidaknya harus memiliki beberapa
kompetensi yang melekat dalam dirinya, di antaranya adalah:
(1) mengembangkan diri dan orang lain;
(2) memimpin pembelajaran
(3) memimpin dalam pengembangan sekolah;
dan
(4) memimpin manajemen sekolah.
Sebagai pemimpin pembelajaran artinya
seorang guru harus mampu memimpin upaya membangun lingkungan belajar yang
berpusat pada peserta didik, merencanakan dan melaksanakan proses belajar yang
berpusat pada peserta didik, memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses
belajar yang berpusat pada peserta didik, serta melibatkan orang tua sebagai
pendamping dan sumber belajar di sekolah.
Dalam melaksanakan perannya sebagai
pemimpin pembelajaran ada paradigma yang menekankan kemandirian sekolah untuk
dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan
potensi yang ada di dalam mereka sendiri dengan ekspektasi hasil yang
didapatkan dapat berkelanjutan. Paradigma tersebut merupakan pendekatan
berbasis kekuatan yang populer disebut sebagai pendekatan pengembangan
komunitas berbasis aset. Pendekatan tersebut berfokus pada potensi atau sumber
daya yang dimiliki oleh sekolah. Jika sekolah dianggap sebagai komunitas,
mengadopsi pemikiran Green dan Haines (2002),
terdapat tujuh aset utama yang
dimiliki sekolah, di antaranya adalah :
(1) modal manusia;
(2) modal sosial;
(3) modal fisik;
(4) modal lingkungan;
(5) modal finansial;
(6) modal politik;
(7) modal agama dan budaya.
Untuk mengimplementasikan peran guru
sebagai pemimpin pembelajaran berbasis aset baik dalam lingkup kelas, sekolah,
dan masyarakat sekitar sekolah, yang mesti diupayakan oleh guru di
antaranya adalah:
(1) memetakan potensi aset yang dimiliki
ekosistem sekolah;
(2) pengambilan keputusan yang cepat,
tepat, cekat, dan akurat;
(3) mengkoordinasikan dan menyelaraskan
seluruh sumber daya yang ada;
(4) memobilisasi sumber daya yang
dimiliki untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Kepiawaian dalam pengelolaan sumber daya
yang tepat dalam konteks pembelajaran bagi seorang guru akan membantu proses
pembelajaran peserta didik lebih berkualitas. Untuk itu, langkah awal sebelum
melakukan kegiatan pembelajaran bersama peserta didik sangat diperlukan
teruatama untuk mengetahui titik temu harapan dan keinginan ideal dari peserta
didik. Menggali harapan dan keinginan bersama dari peserta didik sangat penting
untuk menggkoordinasikan dan memobilisasi sumber daya yang dimiliki oleh
sekolah. Misalnya, seorang guru dapat menanyakan kepada peserta didik, "
Menurutmu pembelajaran seperti apa yang menyenangkan di sekolah kita ? jika
kita belajar di ruang kelas, apa saja yang bisa kita upayakan agar ruang kelas
kita nyaman untuk belajar?" Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu
akan menggerakkan warga sekolah untuk melakukan tindakan dengan memaksimalkan
sumber daya yang sudah ada sehingga suasana dan proses pembelajaran peserta
didik terus berproses menuju perbaikan kualitas. Apalagi diakhir setiap
pembelajaran guru membimbing peserta didik untuk senantiasa mengajukan
pertanyaan reflektif maka upaya perbaikan mutu pembelajaran dapat dilakukan
secara berkelanjutan.
Materi modul 3.2 tentang pemimpin
pengelolaan sumber daya berkaitan erat dengan modul sebelumnya tentang
pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang kekuatan kodrat alam dan kodrat
zaman. Kodrat alam dan kodrat zaman merupakan aset yang melekat untuk
mengembangkan ekosistem pembelajaran sekolah agar lebih berkualitas dan
berpihak pada peserta didik. Untuk itu, seorang guru penggerak harus
memiliki visi dan imaji yang kuat terkait perannya sebagai agen transformasi di
sekolah.
Materi modul 3.2 juga berkaitan dengan
modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak dan modul 1.3
tentang visi guru penggerak karena melalui visioning yang kuat seorang guru
penggerak akan mampu mengupayakan penyelarasan sumber daya yang dimiliki oleh
sekolah sehingga kelemahan suatu ekosistem sekolah menjadi tidak relevan lagi,
melainkan lebih terfokus pada kekuatan sumber daya yang dimiliki oleh
sekolah, Melalui Inkuiri
apresiatif dengan pendekatan BAGJA sangat relevan untuk melakukan perubahan
sekolah berbasis sumber daya yang akan menggerakkan warga sekolah untuk
melakukan perubahan positif. Perubahan positif yang dilakukan secara
konsisten akan melahirkan budaya positif dengan demikian
modul 3.2 pun berkaitan dengan modul 1.4 tentang budaya positif.
Apa yang
menarik bagi Saya setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada
murid?
Alhamdulillah...
puji syukur kepada Allah SWT Terus memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya serta
kesehatan Kepada Seluruh CGP Angkatan 3 Kab. Aceh Timur khususnya saya CGP
Angkatan 3 dari SMPN 2 SUNGAI RAYA, ini merupakan Refleksi Terbimbing yang
terakhir pada LMS ini.
Sejauh ini Saya
juga mendapatkan hal Yang menarik dari aktivitas pembelajaran modul 3.3.
pengelolaan program yang berdampak pada murid adalah sebagai CGP saya disadarkan
akan potensi pada diri yang sebelumnya kita hanya pemimpin pembelajar. Pemimpin
yang mampu mengelola kelas secara maksimal. Namun disisi lain kita harus bisa
dan mampu Menumbuhkan karakter peserta didik dalam pembelajaran yang
disesuaikan dengan potensi dan keunikkan mereka masing-masing.
Dalam modul ini menuntut dan mengarahkan kita menjadi pemimpin dalam ruang lingkup yang lebih luas yaitu sekolah. membuat dan merencanakan program yang muaranya adalah murid atau program yang berdampak pada murid.
Kepemimpinan Murid
Apakah kepemimpinan murid ?
Bapak/Ibu kita telah belajar bahwa murid harus menjadi dasar bagi semua
pengambilan keputusan yang kita buat di sekolah. Melalui filosofi dan metafora
“menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan
pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan
terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu
memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang
sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler,
ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi
pertimbangan utama.
“Sesungguhnya alam-keluarga itu
bukannya pusat pendidikan individual saja, akan tetapi juga suatu pusat untuk
melakukan pendidikan sosial. Orangtua harus melakukan pendidikan bersama dengan
pusat-pusat pendidikan, dan terhubung dengan kaum guru dan pengajar [Ki Hadjar Dewantara dalam Wasita, Tahun ke-1 No.3,
Mei 1993]”
Kita semua tentu sepakat bahwa
murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari
guru. Mereka secara natural adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang
memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin
tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya,
mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain,
lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid
kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau
peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Namun, terkadang guru atau orang
dewasa memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat
keputusan, pilihan atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar
mereka. Kadang-kadang kita bahkan tanpa sadar membiarkan murid-murid kita
secara sengaja menjadi tidak berdaya (learned
helplessness),
dengan secara sepihak memutuskan semua yang harus murid pelajari dan bagaimana
mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses
pengambilan keputusan tersebut.
Agar kita dapat menjadikan murid sebagai
pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan
kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola
pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang
dengan baik. Peran kita sebagai seorang
guru adalah:
1. Mendampingi murid agar pengembangan
potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan
kebutuhannya.
2. Mengurangi kontrol kita terhadap
mereka Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa
mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa
yang disebut dengan “agency”. Agency berasal dari bahasa inggris yang diartikan
sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya
peristiwa melalui tindakan yang dibuatnya. Murid mendemonstrasikan “student
agency” ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat
pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa
ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar,
mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan
nyata sebagai hasil proses belajarnya. Mengingat bahwa kata agency ini belum
ada padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, maka untuk kepentingan
pembahasan di dalam modul ini, maka istilah student agency ini selanjutnya akan
diterjemahkan sebagai “kepemimpinan murid”. Jika kita mengacu pada OECD (2021),
‘kepemimpinan murid’ berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki.
Ketika murid mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan,
efikasi diri, dan growth mindset (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan
dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir
batin (wellbeing). Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka untuk bertindak
dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat.
Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki
kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka
sendiri dan dunia di sekitar mereka. Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai
kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara
bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan. Kepemimpinan murid adalah
tentang murid yang bertindak secara aktif; dan membuat keputusan serta pilihan
yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan
oleh orang lain. Ketika murid menjadi agen dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu
ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan
belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar untuk
belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri. Lewat proses
yang seperti ini, murid-murid akan secara natural mempelajari keterampilan
belajar (belajar bagaimana belajar). Keterampilan belajar ini adalah sebuah
keterampilan yang sangat penting, yang dapat dan akan mereka gunakan sepanjang
hidup mereka. Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam
proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru
dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat
kemitraan.
Dalam hubungan yang bersifat kemitraan
ini, saat murid belajar mereka akan:
- berusaha untuk memahami tujuan
pembelajaran yang ingin dicapainya
- menunjukkan keterlibatan dalam proses
pembelajaran
- menunjukkan tanggung jawab dalam
proses pembelajaran mereka sendiri.
- menunjukkan rasa ingin tahu
- menunjukkan inisiatif
- membuat pilihan-pilihan tindakan -
memberikan umpan balik kepada satu sama lain.
Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan
sebagai mitra murid dalam belajar akan:
- Berusaha secara aktif mendengarkan,
menghormati dan menanggapi ide[1]ide, pendapat, pertanyaan,
aspirasi dan perspektif murid-murid mereka.
- Memperhatikan kemampuan, kebutuhan,
dan minat murid-murid mereka untuk memastikan proses pembelajaran sesuai untuk
mereka.
- Mendorong murid untuk mengeksplorasi
minat mereka dengan memberi mereka tugas-tugas terbuka.
- Menawarkan kesempatan kepada murid
untuk menunjukkan kreativitas dan mengambil risiko.
- Mempertimbangkan sejauh mana tingkat
bantuan yang harus diberikan kepada murid berdasarkan informasi yang mereka
miliki
- menunjukkan minat dan keingintahuan
untuk mendengarkan dan menanggapi setiap aktivitas murid untuk memperluas
pemikiran mereka. Untuk lebih memahami konsep kepemimpinan murid, Bapak/Ibu
dapat membaca tabel berikut ini.
Kepemimpinan Murid adalah…. Kepemimpinan
Murid bukan... sesuatu yang dapat kita dorong sesuatu yang bisa kita ‘berikan’
atau ‘ambil’ dari murid murid mengambil kepemilikan dan tanggung jawab atas
proses pembelajaran mereka sendiri. berarti bebas sepenuhnya bagi murid, murid
tetap membutuhkan bimbingan guru. Terkadang terlalu banyak pilihan dapat
menjadi kontraproduktif dan bukannya menginspirasi. murid memiliki suara dan
pilihan atas apa yang akan mereka pelajari, bagaimana mereka belajar dan
mengorganisir pembelajaran mereka. berarti tidak ada akuntabilitas murid. Murid
tetap harus menunjukkan penguasaan pengetahuan, konsep dan keterampilan. murid
dapat memilih arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran sendiri. berarti
mengganti peran guru. Murid justru memerlukan umpan balik, negosiasi, beradu
argumen, tuntunan, coaching dari gurunya di sepanjang proses pembelajaran.
Kepemimpinan Murid dan Profil Pelajar Pancasila Populasi manusia Indonesia usia
sekolah di masa sekarang, dalam 10-15 tahun mendatang akan menjadi populasi
terbanyak dan mendominasi usia produktif masyarakat Indonesia. Ini sering kita
sebut sebagai bonus demografi jika saja kita dapat menumbuhkan manusia
produktif Indonesia yang berkarakter baik. Namun sebaliknya, jika karakter yang
bertumbuh adalah justru karakter buruk, maka “kutukan” demografi-lah yang akan
Indonesia dapatkan.
Profil Pelajar Pancasila sebenarnya
adalah visi dan harapan Indonesia untuk karakter warganya di masa mendatang.
Profil Pelajar Pancasila adalah muara dari konsep merdeka belajar dan pemelajar
sepanjang hayat yang ingin dibangun lewat upaya penumbuhkembangan kepemimpinan
murid. Melalui upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid kita menyediakan
kesempatan murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian
diharapkan dapat mewujud sebagai pelajar Pancasila yang tidak hanya menjadi
pribadi yang merdeka, namun juga menjadi pribadi yang memerdekakan bangsanya.
Jika kita telaah lebih lanjut, dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid
maka secara bersamaan kita sebenarnya juga membangun karakter murid yang berjiwa profil pancasila yaitu:
- beriman, bertakwa, dan berakhlak
mulia. Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid mengembangkan
berbagai sikap-sikap positif yang merupakan pengejawantahan dari iman,
ketakwaan dan akhlak mulia.
- berkebinekaan global.
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan melatih murid-murid kita untuk
memiliki pemikiran dan wawasan yang terbuka. Mereka akan terbiasa untuk melihat
perbedaan, menghargai beragam perspektif sehingga diharapkan dapat hidup
ditengah-tengah masyarakat yang majemuk, yang mampu menghadapi perbedaan dan
perubahan, baik dalam lingkup lokal maupun global.
-
mampu bergotong royong. Kepemimpinan murid memungkinkan murid untuk terlibat
dan berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama dan berkontribusi dalam
masyarakat yang lebih luas.
- mandiri. Menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid mendorong murid untuk mengambil kontrol dan bertanggung
jawab pada proses pembelajarannya sendiri.
- dapat berpikir kritis.
Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid mendorong murid untuk memiliki kemampuan
berpikir kritis karena mereka akan belajar untuk membuat pilihan dan membuat
keputusan yang bertanggung jawab.
- kreatif. Menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid memungkinkan murid untuk terekspos pada pengalaman belajar
otentik yang menuntut mereka untuk mampu melihat permasalahan dan secara
kreatif berusaha mencari solusi atas permasalahan tersebut. Menumbuhkembangkan
Kepemimpinan Murid Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka
sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya
memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam
proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid
kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses
belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan
lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan
kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan,
bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan
tindakan mereka. Lalu, Apa sebenarnya yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan
kepemilikan murid? Mari kita bahas satu persatu ketiga aspek tersebut:
1. Suara (voice) Ketika kita berbicara
tentang “suara” murid, maka kita sebenarnya bukan hanya berbicara tentang
memberi murid kesempatan untuk mengomunikasikan ide dan pendapat. Lebih luas
dari ini, mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita
memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara
murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan
membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar
dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. Mempromosikan suara murid dalam
proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara. Suara murid dapat
ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat,
merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.
Berikut ini adalah beberapa contoh
mempromosikan “suara murid”:
a. Membangun budaya saling mendengarkan.
b. Membangun kepercayaan diri murid
bahwa setiap suara berharga dan layak didengar.
c. Memberikan kesempatan murid untuk
bertanya, memberikan pendapat, berdiskusi.
d. Mendiskusikan keyakinan kelas dan
membuat kesepakatan kelas.
e. Melibatkan murid dalam memberikan
umpan balik terhadap proses belajar yang telah dilakukan.
f. Melibatkan murid dalam menyusun
kriteria penilaian.
g. Melibatkan murid dalam perencanaan
pembelajaran.
h. Membentuk dewan murid atau
komite-komite yang anggotanya adalah murid untuk memberikan masukan kepada
sekolah tentang berbagai hal.
i. Membuat daftar rutinitas bersama
murid. Mintalah masukan murid untuk mengembangkan rutinitas seputar apa yang
harus dilakukan saat tiba di kelas, saat berganti/transisi antar pelajaran,
sinyal-sinyal komunikasi yang disepakati, rapat kelas, dsb.
j. Melakukan survei untuk mengetahui
alat permainan apa yang mereka inginkan ada di halaman sekolah. k. Memberikan
kesempatan murid menentukan menu kantin.
l. Membuat kotak saran untuk memberikan
murid memberikan saran dan masukan tentang sekolah.
m. Melakukan kegiatan pembelajaran
berbasis proyek. Mengidentifikasi masalah dunia nyata yang menarik bagi murid
dan kemudian memberi kesempatan mereka untuk bekerja sama dan bertukar pikiran
tentang strategi dan solusi untuk permasalahan tersebut.
n. Membuat blog murid dan majalah
dinding untuk menyuarakan aspirasi dan kreativitas murid.
o. Dapatkah Bapak/Ibu menyebutkan contoh
lainnya?
2. Pilihan (Choice) Penelitian yang
dilakukan oleh Aiken, Heinze, Meuter, & Chapman, (2016) dan Thibodeaux et
al. (2017) menyimpulkan bahwa jika kita menginginkan murid-murid kita mengambil
peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka kita harus memberikan
murid kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar.
Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan
dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar
(Aiken et al, 2016). Selain itu, memberikan murid pilihan juga meningkatkan
motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi
diri dan motivasi murid (Bandura, 1997). Pertanyaannya sekarang adalah
bagaimana guru dapat memberikan murid-murid ‘pilihan’ dalam proses belajar
mereka? Ada banyak cara yang dapat dilakukan. Berikut ini adalah beberapa
contoh bagaimana guru dapat mendorong dan menyediakan “pilihan” bagi
murid-muridnya.
a. Membuka cakrawala murid bahwa ada
berbagai pilihan atau alternatif yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum
menentukan sebuah keputusan.
b. Memberikan kesempatan bagi murid
untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang
telah mereka pelajari.
c. Memberikan kesempatan pada murid
untuk memilih peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan/program.
d. Memberikan murid kesempatan untuk
memilih kelompok.
e. Memberikan kesempatan murid untuk
mengelola pengaturan kegiatan.
f. Menggunakan musyawarah untuk
mengambil keputusan, atau jika memang diperlukan melalui voting, untuk memprioritaskan
langkah tindakan atau aktivitas berikutnya. Misalnya saat ingin belajar tentang
topik tertentu, guru dapat mendiskusikan dan membuat daftar kegiatan apa saja
yang dapat mereka lakukan, kemudian meminta murid untuk memilih mana yang ingin
mereka lakukan lebih dulu.
g. Mengajak OSIS membuat daftar kegiatan
(event), dan memberikan kesempatan untuk memilih mana kegiatan yang ingin
mereka lakukan di tahun ajaran ini.
h. Memberi kesempatan pada murid untuk
menentukan sendiri bentuk penugasan yang mereka inginkan.
i. memberikan kesempatan pada murid
untuk mempresentasikan hasil kerja/proyek sesuai dengan gaya , minat dan bakat
mereka
j. memberikan kesempatan pada murid
untuk menggali sumber-sumber belajar sesuai minat mereka.
k. memberikan kesempatan pada murid
untuk mengevaluasi pembelajarannya.
l. memberikan kesempatan pada murid
untuk menentukan rencana, jadwal atau agenda dalam melaksanakan
pembelajarannya. Dapatkah Bapak/Ibu memberikan contoh lainnya?
3. Kepemilikan (ownership) Dalam
pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa saat murid berada dalam kursi
kemudi proses belajar mereka, maka mereka akan lebih bertanggungjawab terhadap
proses pembelajaran mereka sendiri dan menunjukkan keterlibatan yang lebih
tinggi dalam proses belajarnya. Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel
penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching
Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam
belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan
aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar. Jadi dengan kata lain,
saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa
yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses
belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka
terhadap proses belajar tinggi. Berikut ini adalah beberapa contoh
mempromosikan “kepemilikan murid”:
- Mengajak murid mengatur layout kelas
mereka sendiri.
- Meminta pendapat murid untuk menentukan
bentuk penugasan.
- Merespon umpan balik yang diberikan
murid.
- menciptakan lingkungan belajar di mana
murid dapat menetapkan tujuan belajar dan kriteria keberhasilan mereka sendiri,
dan memantau dan menyesuaikan pembelajaran mereka..
- Memulai pembelajaran dengan menanyakan
kepada murid apa yang mereka ketahui tentang topik tersebut dan mendiskusikan
tentang pengalaman murid tentang topik ini serta apa yang mereka minati tentang
pembelajaran.
- Memosting ide siswa (dengan seizin
murid sebagai bagian dari menghargai dan menghormati kepemilikan murid )
- Mengkondisikan lingkungan fisik yang
mendukung kepemilikan. Misalnya membuat papan buletin, yang dapat digunakan
murid untuk menampilkan informasi tentang pekerjaan mereka, kesuksesan mereka,
dsb. - Mengajak murid untuk mengatur kelas mereka sendiri.
- Memajang pekerjaan-pekerjaan murid di
kelas.
- Melakukan self assessment
- Membuat sudut murid di salah satu
bagian sekolah, kemudian memberikan jadwal untuk setiap kelas untuk melakukan
sesuatu di sudut tersebut.
- Memberi kesempatan murid membawa
sumber-sumber pembelajaran yang mungkin mereka miliki dan meminta mereka
berbagi. Untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam proses belajar, ketiga
aspek tersebut perlu dipertimbangkan dengan baik oleh guru.
Pilihan murid menjadi penting agar murid
dapat mengambil kepemilikan atas pembelajaran mereka. Melalui pilihan dan
kepemilikan, suara mereka dapat diwujudkan. Perlu diperhatikan bahwa ketiga
aspek ini tidak dapat berada di lingkungan yang tidak terstruktur Ketiga aspek
ini harus disematkan dengan hati-hati dalam lingkungan belajar yang
menumbuhkembangkan elemen-elemen tersebut secara otentik. Lingkungan belajar
yang seperti ini akan mensyaratkan seluruh anggota komunitas untuk ikut
terlibat dalam prosesnya.
Setelah membaca contoh-contoh di atas,
kami yakin Bapak/Ibu telah mulai dapat lebih memahami apa yang dimaksud dengan
kepemimpinan murid dan pentingnya mempertimbangkan aspek suara, pilihan, dan
kepemilikan murid dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Sekarang, kami
ingin Bapak/Ibu meluangkan waktu untuk membaca materi tentang ‘Lingkungan yang
Menumbuhkankembangkan Kepemimpinan Murid’ dan ‘Peran Keterlibatan Komunitas
dalam Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid’ di bawah ini. Materi ini akan
menjadi dasar bagi bagi Bapak/Ibu saat berdiskusi di Forum Diskusi saat
pembelajaran nanti. Lingkungan yang
Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid Sebagaimana padi yang hanya akan tumbuh
subur pada lingkungan yang sesuai, maka program/kegiatan sekolah yang berdampak
pada murid dan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid pun akan tumbuh dengan
lebih subur jika sekolah dapat menyediakan lingkungan yang cocok.
Lingkungan yang menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah:
1. Lingkungan yang menyediakan
kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang
positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif
kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya.
2. Lingkungan yang mengembangkan
keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana.
3. Lingkungan yang melatih keterampilan
yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun
non-akademiknya.
4. Lingkungan yang melatih murid untuk
menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di
sekitarnya.
5. Lingkungan yang membuka wawasan murid
agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang
manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok,
maupun golongan.
6. Lingkungan tersebut berkomitmen untuk
menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya
sendiri.
7. Lingkungan tersebut menumbuhkan daya
lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan
kesulitan. (di sadur dari Noble Noble, T. & H. McGrath, 2016)
Dalam rangka mewujudkan lingkungan
belajar yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid, guru dan sekolah tentunya
tidak dapat bekerja sendiri. Mereka akan memerlukan dukungan dari berbagai
pihak. Salah satunya dari komunitas. Di dalam bahasan selanjutnya di bawah ini,
kita akan membahas bagaimana peran keterlibatan komunitas dalam
menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Peran Keterlibatan Komunitas dalam
Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid.
Dalam modul 3.2, saya sudag mempelajari bahwa salah satu dari tujuh aset/modal yang dapat
menjadi kekuatan sekolah yaitu aset sosial. Komunitas adalah bentuk dari aset
sosial yang dimiliki sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
kualitas program/kegiatan pembelajaran di sekolah. Yang dimaksud dengan
komunitas di sini dapat terdiri dari murid, guru, orang tua, orang dewasa lain
yang ada di sekitar murid, dan masyarakat atau lingkungan sekitar, yang baik
secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses belajar murid.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sendiri, telah
mengamanatkan tentang pentingnya kemitraan antara sekolah dengan orang tua dan
masyarakat. Kemitraan ini disebut dengan “tri sentra pendidikan”. Kemitraan tri
sentra pendidikan adalah kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan
masyarakat yang berlandaskan pada asas gotong royong, kesamaan kedudukan,
saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan untuk berkorban dalam membangun
ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi peserta
didik. Melalui pemberdayaan, pendayagunaan, dan kolaborasi tri sentra
pendidikan ini, maka keterlibatan yang bermakna dari orangtua dan anggota
masyarakat dalam proses pembelajaran menjadi fokus yang perlu terus diupayakan
oleh sekolah. Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid ‘berada’ dalam lintas
komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada:
a. komunitas keluarga (anggotanya dapat
terdiri orang tua, kakak, adik, pengasuh , dsb)
b. komunitas kelas dan antar kelas
(anggotanya dapat terdiri teman sesama murid, guru)
c. komunitas sekolah (anggotanya dapat
terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, penjaga
keamanan, tenaga kebersihan, petugas kantin, dsb)
d. komunitas sekitar sekolah (anggotanya
dapat terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat setempat, puskesmas, tokoh agama
setempat, dsb)
e. komunitas yang lebih luas.
(anggotanya dapat terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media,
universitas, DPR, dsb) Kesemua komunitas tersebut secara langsung maupun tidak
langsung memengaruhi proses pembelajaran murid. Komunitas-komunitas tersebut
merupakan aset sosial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas
program/kegiatan pembelajaran di sekolah, termasuk dalam menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid, yaitu dengan bersama-sama ikut mempromosikan dan mendorong
‘suara, pilihan, kepemilikan’ dalam berbagai peran yang mereka mainkan dan
interaksi mereka dengan murid. Bagaimana kita dapat melibatkan masing-masing
komunitas tersebut untuk membantu kita mempromosikan dan mendorong ‘suara,
pilihan, kepemilikan’ murid? Mari kita coba bahas satu persatu. 1. Komunitas
keluarga Komunitas yang pertama dan utama bagi murid adalah keluarga mereka.
Murid mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga mereka di
rumah dibandingkan di sekolah. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita harus
berusaha mencari cara bagaimana keluarga dapat ikut mengambil peran untuk ikut
mendorong munculnya suara, pilihan, dan kepemimpinan murid. Beberapa pertanyaan
berikut mungkin dapat membantu Bapak/Ibu ketika berpikir akan mendorong
keterlibatan mereka.
1. Sejauh mana orang tua telah memahami
visi dan misi sekolah kita terkait dengan upaya kita menumbuhkan kepemimpinan
murid? Apakah mereka memahami apa yang kita maksud dengan voice, choice, dan
ownership? Apa yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan pemahaman mereka?
2. Apakah keterlibatan orangtua dalam
program/kegiatan pembelajaran di kelas atau sekolah kita selama ini telah
mendorong dan menguatkan voice, choice, dan ownership murid, atau justru
sebaliknya melemahkannya?
(misalnya apakah orang tua justru
mengambil peran yang seharusnya dapat dilakukan oleh murid dengan dalih ‘ingin
membantu’?)
3. Kesempatan-kesempatan apa sajakah
yang telah kita berikan kepada orang tua untuk terlibat dalam program/kegiatan
pembelajaran (baik intra, ko, ekstra kurikuler) yang kita lakukan di kelas atau
sekolah? Sejauh mana kesempatan tersebut ditujukan untuk mendorong voice,
choice, dan ownership murid dan membantu terwujudnya kepemimpinan murid?
4. Apa yang sudah kita lakukan untuk
membuat orangtua memahami apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak mereka dalam
program/kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas atau sekolah? ( sehingga
mereka dapat terlibat dalam percakapan atau komunikasi yang otentik dan relevan
dengan anak-anak mereka terkait dengan apa yang sedang dipelajari oleh mereka
di sekolah) saya berharap, lewat beberapa
pertanyaan di atas, Bapak/Ibu dapat lebih ‘mindful’ saat ingin melibatkan orang
tua dalam proses/kegiatan pembelajaran di sekolah, agar tujuan kita dalam
mewujudkan kepemimpinan murid yang memiliki voice, choice, dan ownership dapat
tercapai. Di bawah ini adalah beberapa contoh strategi yang dapat kita lakukan
untuk melibatkan keluarga dalam program/kegiatan pembelajaran murid untuk
menumbuhkan kepemimpinan murid.
Keluarga
● Memastikan
orang tua memahami visi dan misi sekolah dalam mewujudkan kepemimpinan murid
(misalnya dengan mensosialisasikan apa yang dimaksud dengan voice, choice, dan
ownership kepada orangtua)
● Secara aktif
melibatkan orang tua untuk membantu menyediakan dukungan dan akses ke
sumber-sumber belajar yang lebih luas untuk membantu mewujudkan suara atau
pilihan murid (misalnya meminta bantuan orang tua untuk mengkoneksikan murid
yang ingin mengakses masyarakat, lingkungan sekitar, atau dunia usaha atau
akses-akses lain yang mungkin sulit untuk dijangkau murid atau sekolah, dsb).
● Mengadakan
workshop atau sesi-sesi informasi yang dapat membantu orang tua memahami
pendekatan pembelajaran yang kita lakukan di sekolah (misalnya melalui
pelatihan orangtua tentang cara bertanya kepada anak, tentang bagaimana
berkomunikasi secara positif, tentang pentingnya ‘suara’, ‘pilihan’, dan
‘kepemilikan’, dsb, sehingga mereka bisa terapkan di rumah).
● Mengadakan
berbagai aktivitas yang memberikan kesempatan bagi murid untuk menunjukkan dan
mendemonstrasikan hasil belajar atau pemahaman mereka kepada orang tua dengan
tujuan untuk menumbuhkan rasa pencapaian, kepercayaan diri, kemandirian, dan
berbagai sikap positif lainnya (misalnya dengan mengundang orang tua untuk
menghadiri perayaan, eksibisi atau pameran hasil karya, assembly, pentas seni).
● Mendorong orang
tua untuk mengajak anak-anak mereka ke tempat[1]tempat
yang dapat menumbuhkan rasa empati, mengekspos murid dalam kegiatan pelayanan
kepada masyarakat, dsb.
● Mendorong,
mempromosikan dan mengapresiasi upaya orangtua dalam membangun kemandirian,
resiliensi, dan tanggung jawab murid (misalnya dengan guru memberikan komentar
positif di buku penghubung murid, dsb)
● Melibatkan
orang tua pada kegiatan-kegiatan non akademis/bukan pembelajaran di kelas agar
rasa kepemilikan lebih terbangun
2. Komunitas kelas dan antarkelas.
Komunitas kelas terdiri dari murid, guru, atau wali kelas, baik yang ada di
kelas murid sendiri maupun di kelas lainnya. Bagaimana guru menavigasi
interaksi mereka dengan murid dan interaksi antara murid dengan murid akan
sangat mempengaruhi bagaimana voice, choice, ownership murid dapat diwujudkan.
Oleh karenanya, peran Bapak/Ibu sangatlah besar disini. Beberapa pertanyaan
berikut mungkin dapat membantu Bapak/Ibu untuk memikirkan tindakan apa yang
dapat dilakukan oleh Bapak/Ibu untuk mempromosikan voice, choice, ownership di
dalam kelas.
1. Apa yang telah saya lakukan untuk
mendorong inkuiri/rasa ingin tahu dan kreativitas murid?
2. Apakah saya telah memastikan murid
memahami apa yang menjadi target dari program/kegiatan pembelajaran mereka?
(sehingga murid dapat mengatur dirinya sendiri dan memantau upaya mereka dalam
mencapai target tersebut)
3. Apa yang telah saya lakukan untuk
membantu murid membangun pemahaman mereka sendiri? Apakah saya selalu
memberikan jawaban pada murid? Seberapa sering saya mengatakan “Bapak/Ibu juga
belum mengetahui jawabannya. Mari kita cari bersama-sama!”
4. Apakah saya memberikan ‘wait time’
saat bertanya kepada murid untuk memberikan mereka kesempatan berpikir?
5. Sejauh mana saya telah mengkoneksikan
pelajaran dengan kehidupan sehari-hari murid?
6. Seberapa sering saya mengajak
murid-murid melakukan refleksi?
7. Sudahkah saya bertanya tentang apa
yang mereka ingin pelajari dan apa yang mereka minati?
8. Sejauh mana saya memberi kesempatan
murid untuk memilih cara, dengan siapa dan bagaimana mereka belajar?
9. Apa yang telah saya lakukan untuk
membawa murid ke ‘luar’ kelas/sekolah dan mengkoneksikan mereka dengan
masyarakat dan dunia yang lebih luas?
10. dsb.
Di bawah ini adalah beberapa contoh
strategi yang mungkin dapat Bapak/Ibu lakukan untuk untuk menumbuhkan kepemimpinan
murid dalam lingkup kelas. Komunitas Kelas dan Antar Kelas (misalnya guru,
kepala sekolah, murid[1]murid)
● Memfasilitasi
kerja kelompok dan kolaborasi antar murid di kelas dan murid antar kelas
(misalnya kerja kelompok, memberikan tugas proyek yang harus dikerjakan
bersama-sama, dsb).
● Mendorong murid
untuk bertanya
● Melibatkan
murid dalam proses perencanaan pembelajaran.
● Melibatkan
murid dalam proses penilaian
● Membentuk dewan
murid, komite-komite yang dipimpin oleh murid, kepanitiaan kegiatan yang
anggotanya adalah murid-murid.
● Mendorong
terciptanya unity (kebersamaan), yang dapat mempromosikan rasa kepemilikan
murid (misalnya dengan mengadakan karnival olahraga, class meeting, dsb).
● Memberikan
kesempatan murid untuk terlibat dalam pengaturan prosedur, rutinitas,
kesepakatan kelas, dsb.
● Memberikan
murid kesempatan untuk memberikan umpan balik dalam proses pembelajaran. 3.
Komunitas sekolah Komunitas sekolah di sini adalah pihak-pihak yang aktif
berkegiatan di sekolah (mungkin tidak berada di kelas setiap hari ), namun ada
dalam hidup keseharian sekolah serta murid-murid di sekolah. Kepala sekolah,
konselor, staf administrasi, tukang parkir, pustakawan, bapak/ibu kantin,
penjaga sekolah, pengawas sekolah, komite sekolah, anggota yayasan serta lainnya
adalah contoh anggota komunitas sekolah. Walaupun mereka tidak secara langsung
mengajar murid di kelas atau terlibat dalam program/kegiatan pembelajaran
secara langsung, namun lewat peran dan apa yang mereka lakukan mempengaruhi
proses belajar murid. Mempertimbangkan peran mereka dalam mendorong voice,
choice, dan ownership akan membantu kesuksesan upaya kita dalam menumbuhkan
kepemimpinan murid. Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu
Bapak/Ibu untuk memikirkan bagaimana Bapak/Ibu dapat melibatkan mereka dalam
mempromosikan voice, choice, ownership di dalam berbagai program/kegiatan
pembelajaran di kelas dan sekolah.
1. Sejauh mana anggota komunitas sekolah
(misalnya tukang parkir, satpam, penjaga kantin, pustakawan, tenaga kebersihan)
telah memahami visi dan misi sekolah kita terkait dengan upaya kita menumbuhkan
kepemimpinan murid? Apakah mereka memahami apa yang kita maksud dengan voice,
choice, dan ownership? mengapa pemahaman mereka menjadi penting? Apa yang perlu
kita lakukan untuk meningkatkan pemahaman mereka?
2. Apakah saya mengetahui apa saja yang
dapat pustakawan sekolah saya kontribusikan untuk mendukung suara, pilihan, dan
kepemilikan murid? Seberapa sering saya mengajak pustakawan terlibat dalam
proses perencanaan program/kegiatan pembelajaran di kelas/sekolah saya?
3. Bagaimana tenaga kependidikan, dari
mulai tukang parkir, satpam, sampai penjaga kantin dapat saya dorong untuk
membantu membangun lingkungan belajar yang positif dan menghargai suara,
pilihan, dan kepemilikan murid?
4. Bagaimana saya dapat melibatkan
mereka untuk membantu mengoneksikan murid-murid saya dengan dunia di luar kelas
mereka sehingga murid-murid dapat memperluas pembelajaran mereka dan mewujudkan
suara serta pilihan mereka?
Di bawah ini adalah beberapa contoh
strategi yang mungkin dapat Bapak/Ibu lakukan untuk untuk melibatkan komunitas
sekolah untuk membantu menumbuhkan kepemimpinan murid. Dapatkah Bapak/Ibu
memberikan contoh lainnya? Komunitas Sekolah ( misalnya tukang parkir,
pustakawan, laboran, penjaga sekolah, petugas kantin, satpam, tenaga
kebersihan, dsb)
● Memastikan
tenaga kependidikan yang ada di sekolah memahami visi dan misi sekolah dalam
mewujudkan kepemimpinan murid (misalnya dengan mensosialisasikan visi, misi,
kebijakan sekolah, program sekolah, dsb)
● Mengundang
pustakawan untuk ikut serta dalam perencanaan pembelajaran, sehingga mereka
bisa membantu menyediakan akses ke sumber-sumber belajar yang sesuai.
● Mendorong
pustakawan untuk melibatkan murid dalam memberikan masukan kepada pustakawan
terkait dengan koleksi sumber-sumber belajar apa saja yang murid perlukan.
● Mendorong
pustakawan untuk menyediakan beragam perspektif dalam sumber-sumber belajar
yang mereka sediakan.
● Mendorong
pustakawan untuk menyediakan sumber belajar yang multimoda agar dapat
mengakomodasi berbagai minat dan kebutuhan murid, dan agar murid memiliki
pilihan.
● Mendorong
pustakawan untuk melibatkan murid dalam menentukan prosedur yang memungkinkan
murid untuk mengatur dan menavigasi diri mereka secara bebas di dalam
perpustakaan, namun tetap dengan bertanggung jawab.
● Mendorong
laboran untuk membuat prosedur keamanan dan keselamatan yang tetap memungkinkan
murid untuk mandiri dan percaya diri dalam melakukan kegiatan.
● Mendorong
laboran untuk mempromosikan laboratorium sebagai salah satu tempat yang menarik
dan menyenangkan bagi murid untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis
dan kreatif.
● Mengundang
tenaga kebersihan, penjaga sekolah, petugas kantin, satpam, dan tenaga
kependidikan lain untuk ikut berperan sesuai perannya di sekolah dalam berbagai
kegiatan pembelajaran. (misalnya melibatkan mereka menjadi pembicara tamu di
kelas, mengundang mereka dalam pertemuan-pertemuan yang terkait dengan
bagaimana mereka dapat mendukung murid, dsb).
● Mengadakan
pelatihan bagi para staf pendukung tentang nilai-nilai dan berbagai pendekatan
belajar yang dilakukan oleh sekolah, sehingga mereka dapat ikut memodelkan
sikap dan perilaku sesuai dengan yang ingin kita kembangkan pada diri anak, dsb
(misalnya pelatihan tentang perlindungan anak, pelatihan tentang protokol
kesehatan, dsb)
4. Komunitas sekitar sekolah, Komunitas
sekitar sekolah adalah komunitas yang berada di luar sekolah namun masih dalam
lingkup sekitar sekolah, atau yang dapat kita sebut sebagai masyarakat. Dalam
komunitas ini termasuk apa dan siapa pun yang berada dalam radius yang dekat
dengan sekolah, misalkan: tempat ibadah, rumah sakit, warung, usaha di dekat
sekolah, bisnis yang terkait dengan operasional sekolah (provider ATK, dan
lainnya), perusahaan di mana orang tua bekerja, hingga keluarga besar dari tiap
murid atau orang tua. Mereka mungkin tampak tidak ada kaitannya dengan
program/kegiatan pembelajaran murid di kelas atau sekolah kita, namun memiliki
potensi untuk mendorong suara, pilihan, dan kepemilikan murid karena peranan
yang dapat mereka mainkan. Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu
Bapak/Ibu untuk memikirkan bagaimana melibatkan komunitas sekitar sekolah untuk
membantu mempromosikan voice, choice, dan ownership.
1. Apakah saya mengetahui isu-isu yang
sedang terjadi di dalam masyarakat yang ada di sekitar sekolah? Bagaimana saya
dapat mengetahuinya?
2. Bagaimana saya dapat membawa isu-isu
tersebut ke dalam kelas dan mentrasnformasikannya menjadi wahana untuk
mewujudkan suara, pilihan dan kepemilikan murid?
3. Bagaimana saya dapat membuka ruang
dialog dengan masyarakat sekitar sehingga saya dapat mengomunikasikan harapan
saya tentang kepemimpinan murid yang ingin saya wujudkan di diri murid-murid
saya? Di bawah ini adalah beberapa contoh strategi yang mungkin dapat Bapak/Ibu
lakukan untuk untuk melibatkan komunitas sekitar sekolah untuk membantu
menumbuhkan kepemimpinan murid. Dapatkah Bapak/Ibu memberikan contoh lainnya?
Komunitas Sekitar Sekolah (misalnya tokoh agama, RT/RW, puskesmas, RT/RW,
pasar, sekolah-sekolah yang ada di sekitar, dsb)
● Mengajak murid
untuk mengenal lingkungan sekitar sekolah mereka (melihat masalah
lingkungan/sosial, mengunjungi RT, RW, kelurahan, dsb.) untuk memantik rasa
penasaran dan pertanyaan para murid tentang konsep tertentu yang sedang
dipelajari di kelas (misal: sistem pemerintahan, peran pemimpin daerah, dan
lainnya).
● Melibatkan
lingkungan sekitar dalam berbagai kegiatan pelayanan masyarakat yang digagas
murid agar lingkungan juga dapat merasakan dampak dari keberadaan sekolah.
(misalnya melakukan kegiatan pasar murah bagi penduduk sekitar).
● Mendorong
kapasitas peran serta masyarakat sebagai bagian dari Tri Sentra Pendidikan
dengan merancang berbagai kegiatan kolaborasi dan kerjasama dengan lingkungan
sekitar untuk membina hubungan baik dan tercipta rasa saling percaya, sehingga
lingkungan dapat memberikan berbagai kemudahan dan dukungan bagi proses
pembelajaran saat kita dan murid-murid perlukan (misalnya: menjadi bagian dari
kepanitiaan kegiatan Idul Kurban di masjid sekitar sekolah, melakukan kegiatan
kerja bakti bersama warga, mengundang Puskesmas untuk menjadi sumber belajar
murid untuk memberikan edukasi dan pelatihan-pelatihan terkait bidang tugas
kesehatan, sesekali mengundang RT/RW dalam kegiatan sekolah, dsb).
● Mengadakan
pertemuan/forum antar Kepala sekolah, guru yang dapat meningkatkan pemahaman
dan keterampilan kepala sekolah dan guru yang mendorong, mempromosikan
kepemimpinan murid, sehingga membuka kesempatan murid untuk berkolaborasi lintas
sekolah.
● Mengadakan
perayaan budaya ‘panen padi’ di mana murid-murid ikut berpartisipasi bersama dengan masyarakat
sekitar sekolah. Kegiatan lengkapnya dapat dilihat dari video berikut ini:
Video Kegiatan Wiwitan SD Salam 5. Komunitas yang lebih luas Komunitas yang
terakhir adalah komunitas yang jauh dari sekolah namun berpeluang dan mampu
mempengaruhi sekolah. Media massa (lokal, nasional, regional, dunia), media
sosial, universitas, pemerintah (daerah, pusat), ormas, parpol, dunia usaha,
dunia industri, dan lainnya merupakan contoh dari komunitas yang lebih luas.
Walaupun komunitas ini mungkin tidak langsung berinteraksi dengan murid-murid
kita, namun keberadaan mereka mungkin dirasakan anak-anak atau mempengaruhi
anak-anak. Contoh, meskipun mereka tidak berinteraksi langsung dengan para
youtuber, namun apa yang dilakukan oleh youtuber dan pendapat-pendapat mereka
mungkin mempengaruhi anak-anak. Oleh karena itu, peran komunitas yang lebih
luas ini dalam membantu mewujudkan kepemimpinan murid yang mempromosikan suara,
pilihan dan kepemilikan murid voice, choice, dan ownership bisa menjadi
signifikan. Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu Bapak/Ibu untuk
memikirkan bagaimana dapat melibatkan komunitas yang lebih luas untuk membantu
mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan murid voice, choice, dan
ownership.
1. Siapa sajakah yang termasuk dalam
komunitas yang lebih luas ini? Bagaimana mereka dapat secara langsung maupun
tidak langsung dapat berpengaruh dalam program/kegiatan pembelajaran di
kelas/sekolah?
2. Apakah memungkinkan bagi saya untuk
melibatkan mereka secara langsung dalam program/kegiatan pembelajaran yang saya
lakukan di kelas/sekolah saya?
3. Jika tidak memungkinkan, bagaimana
saya dapat memanfaatkan konten, produk, dari komunitas ini (misalnya berita
terkini, artikel, jurnal penelitian, peraturan, kebijakan) dan membawanya ke
kelas/sekolah untuk memunculkan inkuiri murid-murid saya?
4. Komunikasi seperti apa yang harus
saya lakukan untuk mendorong keterlibatan? Komunitas yang Lebih Luas (misalnya
media, dunia usaha, pemerintah, DPRD, universitas, organisasi masyarakat, dsb)
● Menggunakan
artikel yang ada di media massa untuk memantik rasa ingin tahu murid.
● Melibatkan
media untuk mengomunikasikan dan mempromosikan berbagai aksi inisiatif murid
yang berdampak bagi komunitas.
● Menggunakan
media dan teknologi untuk menghubungkan dan mengoneksikan murid dengan dunia
yang lebih luas (misalnya melakukan teleconference dengan murid-murid lain di
bagian dunia yang lain untuk mendiskusikan berbagai isu dan perspektif,
memberikan kesempatan pada murid untuk menyampaikan pendapatnya di siaran
radio).
● Mengundang
keterlibatan dunia usaha untuk menjadi tempat magang murid.
● Mengadvokasi
dunia usaha untuk menjadi ‘tempat belajar’ bagi murid untuk mengembangkan berbagai keterampilan (misalnya di
beberapa sekolah ada perusahaan yang membangun bengkel di sekolah untuk menjadi
tempat belajar siswa).
● Melibatkan
pemuka agama dan berbagai kegiatan keagamaan untuk mengembangkan sikap
toleransi dan keterbukaan perspektif.
● Mendorong murid
untuk menyuarakan pendapat, saran-saran, solusi dan menyalurkannya kepada para
pembuat keputusan dan kebijakan (misalnya mengirimkan surat kepada para pembuat
keputusan untuk menyampaikan alternatif solusi permasalahan yang diberikan oleh
murid, mengundang pembuat kebijakan ke dalam forum diskusi dengan murid, dsb).
● Mendorong
kemitraan antara universitas dan sekolah (misalnya menindaklanjuti ide-ide
inovatif yang digagas murid untuk kemudian di riset lebih jauh oleh
universitas, mengundang universitas ikut serta bekerjasama dengan sekolah
mengembangkan program-program atau kegiatan sekolah melalui
penelitian-penelitian, mengundang universitas sebagai sumber belajar murid
sesuai dengan bidang keilmuan yang dibutuhkan murid dalam mengembangkan
kegiatannya.
● Mengundang
organisasi masyarakat ikut serta bekerja sama dengan sekolah menjadi sumber
belajar dan melatih keterampilan murid sesuai dengan kebutuhan belajar murid
(misalnya; organisasi kepemudaan, komunitas dongeng , komunitas peduli sampah,
komunitas peduli lingkungan, komunitas olah raga, dll) Komunitas-komunitas yang
mendukung kepemimpinan murid tentunya akan memahami bahwa sesungguhnya
murid-murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan. Mereka akan berusaha
menciptakan kesempatan-kesempatan yang mendorong tumbuhnya dan berkembangnya
berbagai sikap dan keterampilan[1]keterampilan penting
dalam diri murid, misalnya sikap percaya diri, mandiri, kreatif, gigih,
keterampilan berpikir kritis, dalam berbagai interaksi yang mereka lakukan
dengan murid, sehingga murid akan senantiasa merasa didukung, berdaya, dan
memiliki efikasi diri yang tinggi.
Komunitas memiliki peran penting dalam
membantu mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan
murid karena:
1. membantu menyediakan kesempatan bagi
murid untuk mewujudkan pilihan dan suara mereka.
2. membantu murid untuk belajar melihat
dan merasakan dampak dari pilihan dan suara yang dibuatnya. 3. membantu
membentuk identitas diri dan efikasi diri murid yang lebih kuat.
4. membantu murid untuk dapat tumbuh
menjadi agen perubahan yang dapat memberikan kontribusi yang berarti terhadap
diri sendiri, orang lain, masyarakat serta lingkungan di sekitarnya. Kita dapat
melibatkan lintas komunitas tersebut dalam proses pembelajaran murid. Namun,
yang perlu diingat, jika kita ingin keterlibatan mereka dapat membantu
mewujudkan kepemimpinan murid, maka keterlibatan mereka harus dapat mendorong
aspek suara, pilihan dan kepemilikan murid. Jangan sampai keterlibatan komunitas
justru membuat ketiga aspek tersebut menjadi berkurang. Untuk dapat
mempromosikan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid, berikut adalah
beberapa prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam membangun interaksi murid
dengan komunitas:
1. Membangun suasana yang menghargai
murid. Hal ini agar dalam interaksinya dengan komunitas, murid akan senantiasa
merasa disambut. dipercaya, dan aman secara fisik dan emosional.
2. Mendengarkan murid. Agar dapat
tercipta sikap saling memahami dan saling percaya, maka perlu ada upaya untuk
mendengarkan murid dengan tulus dan penuh perhatian. Terkadang mungkin tidak
mudah melakukan hal ini karena tidak semua anak-anak mampu mengekspresikan apa
yang ada dipikirannya dengan jelas. Perlu adanya kesabaran dan empati dari
komunitas.
3. Dialog atau komunikasi dengan murid.
Saat membangun pemahaman, murid akan mengkonstruksi pemahamannya melalui proses
refleksi dari pengalaman interaksinya dengan lingkungan dan orang-orang
disekitarnya. Oleh karenanya, berkomunikasi dengan murid secara demokratis dan
setara menjadi penting. Komunikasi ini harus bersifat dua arah dan bersifat
dialog dengan murid, dan bukan bersifat orang dewasa yang ‘memberi perintah’
kepada murid. Dengan meluangkan waktu untuk berdialog dan menanggapi gagasan
murid tentang tindakan mereka, akan membantu murid untuk sampai pada pemahaman.
4. Menempatkan murid dalam kursi
pengemudi. Dalam proses pembuatan keputusan, komunitas dapat memberikan saran
atau mendorong ide-ide murid, namun pada akhirnya perlu memastikan bahwa murid
lah yang akan mengambil keputusan
Memanfaatkan
asset/potensi/kekuatan yang terdapat dan dimiliki sekolah sebagai modal dalam
menjalankan program tersebut. Kita pun diarahkan untuk mampu memanage resiko
yang mungkin atau akan muncul dari setiap program yang akan kita lakukan.
Menegemen resiko ini sangat berguna untuk meminimalisir resiko atau kendala
yang akan muncul dari sebuah program.
Apa hal-hal
baru yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program
yang berdampak pada murid?
Dalam
membuat sebuah program haruslah memperhatikan dampak dari program tersebut.
Program tersebut haruslah berdampak dan bermuara pada perubahan murid kea rah
yang lebih baik.
Dalam
manajemen resiko ada beberapa unsur yang harus diperhatikan yang merupakan
tipe-tipe dari resiko itu sendiri. Berikut tipe-tipe resiko dalam suatu sistem:
Resiko
strategis yaitu resiko yang mempengaruhi terhadap pencapaian tujuan yang dibuat
organisiasi atau sistem
Resiko
keuangan yang memunculkan keterbatasan finansial dalam menjalankan sebuag
program
Resiko
oprasional yaitu resiko yang berdampak terhadap keberlansungan menejemn.
Resiko
pemenuhan yaitu resiko yang berpengaruh terhadap proses dan procedural di dalam
sistem tersebut yang berkaitan dengan aturan serta hokum yang diterapkan.
Resiko
reputasi yaitu resiko yang berdampak terhadap nama baik dan kredibilitas dari
sistem tersebut.
3. Perubahan
apa yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?
Akan
merencang sebuah program yang berdampak pada murid dengan memenejemen resiko
yang mungkin akan timbul. Perubahan yang diterapkan dalam sebuah ekosistem
khususnya sekolah SMPN 2 SUNGAI RAYA KABUPATEN ACEH TIMUR akan memunculkan
resiko. Sudah sepatutnya lah sekolah selalu menerapkan menjemen resiko untuk
meminimlisir kemungkinan negtaif yang akan timbul dari perubahan tersebut.
Pengelolaan dan pengidentifikasian resiko sangat dibutuhkan untuk merendam
kerugian yang muncul dari penerapan suatu progam.